TAKMIR MASJID AGUNG KAUMAN SEMARANG TOLAK 'JUMATAN POLITIK' PRABOWO
![]() |
| Kyai Hanief Ismail, dan gerbang depan masjid agung Kauman Semarang. (Foto: Shaleh Rudianto/media3.id) |
Semarang, Media3.id - Ketua Takmir Masjid Agung Kauman Semarang merasa berkeberatan Jum’atan Dipolitisasi
Selaku Ketua Takmir Masjid, KH Hanief Ismail menyatakan keberatan adanya rencana sholat Jum’at Capres 02 Prabowo Subianto di Masjid Agung Semarang, Jum’at (15/2)esok.
Kepada Media3.id, secara khusus KH Hanief mengaku telah menghubungi mantan Komisioner Panwaslu Kota Semarang, Mohamad Ichwan, agar menuliskan sikap keberatannya itu dan meminta agar diberitahukan kepada Bawaslu Kota Semarang untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan.
"Jum’atan yang akan diadakan oleh Prabowo itu mencerminkan perbuatan mempolitisir ibadah shalat Jum’at sekaligus memakai masjid untuk kepentingan politik", ucap Kyai Hanief.
Para nadlir atau takmir Masjid Kauman, lanjut Hanief, merasa berkeberatan dengan rencana Jum ‘atan Prabowo tersebut.
"Mohon kepada Bawaslu Kota Semarang agar mengambil tindakan sesuai aturan hukum",tutur kyai.
Lebih lanjut Kiai Hanief menjelaskan, pihaknya tidak pernah mendapat surat dari tim kampanye Prabowo-Sandi maupun dari partai pengusung pasangan Capres-Cawapres tersebut. "Oleh karenanya, peristiwa akan digelarnya shalat Jum’at oleh Prabowo dan pendukungnya di Masjid Kauman samasekali tidak berkaitan dengan Nadlir atau Takmir Masjid, baik secara resmi maupun secara informal, pihak takmir tidak pernah menyetujui atau memberikan ijin.
“Kami tidak pernah memperoleh surat apapun dari pihak Pak Prabowo atau partai pengusungnya. Jadi kami tidak terkait dengan rencana adanya shalat Jum’at capres tersebut,” tandasnya.
Kyai Hanief menambahkan, pada prinsipnya Takmis Masjid Kauman mempersilakan siapapun untuk shalat di masjid tersebut. Pihak takmir membuka lebar-lebar siapapun muslim untuk beribadah, termasuk shalat Jum’at.
Namun tentu pihak Takmir Masjid berkeberatan apabila peristiwa shalat itu dipolitisir, yakni dijadikan ajang politik untuk pencitraan sebagai bahan kampanye, apalagi dengan mengerahkan massa dan menyebar pamlfet ke masyarakat agar ikut Jum’atan bersama capres Prabowo Subianto. Hal itu menurutnya berpotensi melanggar aturan kampanye dan sangat menodai kesucian masjid sebagai tempat ibadah.
“Kami mempersilakan siapa saja boleh shalat di Masjid Kauman. Setiap muslim boleh shalat Jumn’at di sini. Termasuk musafir. Tapi kalau untuk pencitraan kampanye, itu berpotensi melanggar aturan dan menodai kesucian masjid sebagai tempat ibadah,” terangnya.
Sementara itu Muhammad Ichwan pun langsung mengirim pesan kepada ketua Bawaslu Kota Semarang, Muhammad Amin, terkait hal ini. Dan dijawab dengan saran agar menyampaikan surat resmi pernyataan keberatan.
“Saya perintahkan sekretaris untuk membuat surat tentang sikap resmi takmir Masjid Kauman. Tentang surat laporan ke Bawaslu, akan kami musyawarahkan dulu. Mas Ichwan akan kami minta saran lagi nanti,” tutur Kyai Hanief yang juga pengasuh Pondok Pesantren An-Nasimiyah Puspanjolo Semarang Barat ini.
Kepada Media3.id Muhammad Ichwan menerangkan, secara hukum yang akan menentukan apakah shalat Jum’at Prabowo berisi kampanye atau tidak, itu adalah kewenangan Bawaslu. Terkait hal ini Bawaslu Kota Semarang akan melakukan pengawasan terhadap acara tersebut.
“Bawaslu Kota Semarang akan mengawasi. Tadi saya mendapat balasan begitu dari ketua Bawaslu Kota Semarang. Apakah akan ada tindakan pencegahan atau pelarangan, mari kita serahkan ke pihak berwenang, yaitu Bawaslu,” tutur pria yang pernah menjadi komisioner Panwaslu Kota Semarang periode 2012-2014 ini.
Dari penelusuran di lapangan, rencana Prabowo shalat Jum’at di Masjid Agung Semarang akan dilaksanakan pada Jum’at esok (15/2). Acara itu telah diumumkan besar-besaran. Ribuan pamflet telah disebar di seantero kota Semarang. Termasuk ditempel di kampus-kampus dan masjid-masjid.
Pamflet dan narasi undangan untuk ikut shalat Jum’at bersama Prabowo itu juga telah viral di media sosial. Sejak Rabu (13/2) pagi hingga petang, sudah ribuan akun facebook dan ribuan akun twitter serta ribuan akun instagram mem-posting pamflet tersebut.
Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Semarang menjadi sibuk karena urusan ini. Terlihat beberapa polisi berpakaian sipil mondar-mandir di sekitar masjid. Sebagai penanggungjawab keamanan wilayah, mereka harus mengantisipasi segala situasi yang mungkin terjadi. •
(Shaleh Rudianto)


No comments