MENGENAL PERAYAAN APEMAN YAQOWIYU JATINOM KLATEN
![]() |
| Gunungan apem yang akan dibagikan kepada masyarakat. |
Klaten, Media3.id- Di Kabupaten Klaten, khususnya di Kecamatan Jatinom, terdapat satu momentum peristiwa religi yang mentradisi hingga kini. Tradisi religi monumental ini berupa Apeman Yaqowiyu.
Dikatakan apeman, menunjuk pada wujud kue apem, dan yaqowiyu diartikan dari ucapan Kyai Ageng Gribig saat mensyukuri kemahakuasaan Allah subhana.
Mengutip 'Risalah Jati Anom' disebutkan bahwa suatu ketika sekembali dari beribadah haji, Kyai Ageng Gribig dibekali tiga buah kue apem. Olehnya, kue apem tadi hendak dibagikan kepada cucu-cucunya, namun tidak menckupi. Sehingga kemudian sang istri, Nyai Ageng Gribig, memasak sejumlah kue apem agar menukupi untuk semua cucu.
Kemudian Kyai Ageng Gribig berucap “APEM YAQOWIYU” yang ditafsirkan sebagai doa memohon kekuatan dan keberkahan dari Allah subhana. Selanjutnya Kyai Ageng Gribig juga menganjurkan kepada warga Jatinom (kala itu Jati Anom) agar menebarkan apem sebagai gerakan bersedekah, dilakukan pada hari Jum'at pertengahan bulan Shafar (Sapar, Jawa- red)
Dan kini, saat Jum'at siang pertengahan bulan Shafar, ribuan orang memadati lapangan dekat Masjid Agung Jatinom, untuk berebut apem yaqowiyu yang dibagikan secara disebar dari atas menara. Masyarakat pengunjung, sebagiannya berasal dari luar kota Klaten.
Momentum religi budaya ini digelar untuk mengenang jasa Ki Ageng Gribig, tokoh ulama penyebar agama Islam di Jawa, yang menetap dan meninggal di Jatinom.
Pada Kamis siang sebelum apem disebar, apem disusun dalam dua gunungan yaitu gunungan lanang (gunungan jantan) dan gunungan wadon (gunungan betina). Gunungan apem ini lalu diarak dari Kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Ageng Jatinom yang sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Masjid Alit Jatinom. Arak-arakan ini diikuti oleh pejabat-pejabat Kecamatan dan Kabupaten Klaten. Arak-arakan jalan kaki ini juga dimeriahkan oleh marching band, reog, seni bela diri dan Mas Mbak Klaten.
Setelah kedua gunungan apem sampai di Masjid Ageng Jatinom maka gunungan apem tersebut disemayamkan selama satu malam di dalam masjid untuk diberi doa-doa. Pada hari Jumat setelah sholat Jumat, apem tersebut disebar oleh Panitia bersama dengan ribuan apem sumbangan dari warga setempat.
"Banyak orang berpendapat bahwa apem yang ada di gunungan dan telah disemayamkankan di Masjid Ageng itulah apem yang paling “berkhasiat” atau manjur, yang benar-benar punya berkah", ucap Hirjan (43) warga Bonyokan, Jatinom. Meskipun demikian, lanjut Hirjan, tidak berarti ribuan apem lain yang disebar tidak membawa berkah, masyarakat percaya bahwa apem-apem yang disebar itu punya berkah.
"Penyusunan gunungan itu juga ada artinya, apem disusun menurun seperti sate 4-2-4-4-3 maksudnya jumlah rakaat dalam shalat Isa, Subuh, Zuhur, Asar, dan Magrib", paparnya.
Di antara susunan itu terdapat kacang panjang, tomat, dan wortel yang melambangkan masyarakat sekitarnya hidup dari pertanian. Di puncak gunungan terdapat mustaka yang di dalamnya berisi ratusan apem.
Ada perbedaan antara gunungan lanang dan wadon. Gunungan wadon lebih pendek dan berbentuk lebih bulat. Gunungan lanang lebih tinggi dan di bawahnya terdapat kepala macan dan ular.
Kedua hewan itu merupakan hewan kesayangzn Kyai Ageng Gribig. Kepala macan itu melambangkan Kiai Kopek yakni macan putih kesayangan Ki Ageng Gribig, sedangkan ular melambangkan Nyai Kasur peliharaan Kyai Ageng Gribig.
Di lokasi ini terdapat juga peninggalan Kyai Ageng Gribig berupa: Gua Belan, Sendang Suran, Sendang Plampeyan dan Oro-Oro Tarwiyah. Disamping itu masih ada satu peninggalan yaitu Masjid Alit atau Masjid Tiban.
Sepulang Kyai Ageng Gribig dari Mekah tidak hanya membawa apem saja tetapi juga membawa segenggam tanah dari Arofah dan tanah ini ditanamkan di Oro-Oro Tarwiyah. Disebut Tarwiyah karena tanah dari Mekah yang ditanam Kyai Ageng Gribig yang berasal dari Padang Arofah ketika beliau sedang mengumpulkan air untuk bekal wukuf di Arofah.
▪(Shaleh Rudianto)

No comments