ads

ads header

Breaking News

Nenek Titi Dan Ketiga Cucunya Yang Masih Kecil, Salah Satu Contoh Warmis Di Majalengka Luput Dari Bantuan Pemerintah


Majalengka, media3.id - Sejumlah program pengentasan kemiskinan yang digulirkan Pemerintah sekarang,  ternyata tidak menyentuh satu pun pada  Nenek Titi (63) dan ketiga cucunya. Keluarga tersebut merupakan Warga miskin  (Warmis) penduduk
Blok Majasari, Desa Jatiserang, Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka.


Pasalnya nenek itu meskipun kondisi kehidupannya sangat memperihatinkan, namun tidak pernah memperoleh bantuan apapun dari Pemerintah. Keluarga nenek Titi tidak tercover PKH, KIS, KIP dan sejenisnya.

Ditengah keterbatasan kondisi ekonomi yang membelitnya selama ini, tak hanya Nenek Titi,  Rinto cucu paling besar nenek Titi juga turut terdampak kemiskinan. Setiap berangkat ke SMP tanpa dibekali uang jajan. Dia mengalah demi untuk membahagiakan kedua adiknya agar bisa jajan. Namun dia tetap berprestasi, piala berbagai kejuaraan telah diraihnya.

Menyaksikan keberadaan Warmis diwilayah binaannya,  Brigadir Aang Selaku Bhabinkamtibmas Desa Jatiserang Polsek Panyingkiran Resor Majalengka, terlihat mengunjungi sekaligus berbincang dengan Nenek Titi  yang berjuang bekerja sendiri demi menghidupi serta melengkapi masa depan  ketiga cucunya yang masih kecil karena ibunya telah meninggal dan ayahnya pulang ke kampung halamanya.

Kapolres Majalengka AKBP Mariyono melalui Kapolsek Panyingkiran AKP H Sukanto menyebutkan, sebagai anggota Polri harus peka terhadap apa yang terjadi diwilayah hukumnya, termasuk yang sedang dialami warga binaannya.

"Karena tugas Polisi sudah jelas, melayani perlindungan dan mengayomi masyarakat," katanya, Sabtu (2/3/2019).

Sementara,  Titi mengaku sudah dua tahun mengasuh ketiga cucuknya yakni,  Rinto yang kini duduk di bangku kelas VIII SMP, Risma masih TK serta Rendi yang kini menginjak usia 4 tahun. Tidak ada keluarga lain yang bisa diandalkan untuk mengasuh ketiga anak tersebut. Semenjak ibunya meninggal, bapaknya pulang ke kampung halamannya di Jombol, Kadipaten, Majalengka.

"Setiap pagi, saya membersihkan ruang kelas PAUD tempat cucu saya sekolah, dari situ saya dapat uang jajan untuk cucu saya," ujar Titi memelas.

Diakuinya, dari membantu menyapu dan membersihan PAUD tersebut, uang jajan yang diterimanya setiap hari  Rp 6.000 hingga 7.000 itu juga  pemberian orangtua murid.

Sementara untuk makan sehari-hari Warmis tersebut  mengandalkan kiriman dari salah satu anaknya serta belas kasihan warga sekitarnya.

Demikian juga dengan pakaian seragam sekolah cucu-cucunya, dia  mengandalkan pemberian dari pihak lain yang peduli.

Menurut Titi saat mengalami sakit, jika berobat pun menggunakan pelayanan umum karena dirinya dan ketiga cucunya tidak  memiliki KIS,  sehingga saat berobat pun harus tetap bayar sendiri.

Dia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian dan membantunya.(Nano)

No comments